Knowledge Base
Tutorial, tips marketing, dan insight untuk bisnis berbasis langganan di Indonesia.

Pesan masuk tanpa henti. Notifikasi terus berdatangan. Setiap hari selalu ada orang baru yang ingin mengenal Memverr lebih dalam. Sebagian hanya bertanya singkat, tapi tidak sedikit yang ingin langsung melakukan call atau meeting.

Banyak yang menghubungi CS kami. Banyak yang bertanya. Dan kami senang dengan itu, karena bagi kami pertanyaan adalah tanda ketertarikan. Orang yang tidak tertarik tidak akan repot-repot menghubungi siapa pun.

Ketika CS kami menjelaskan bahwa Memverr adalah member management platform, fokusnya spesifik: membantu pemilik bisnis memastikan member terus membayar setiap bulan atau setiap periode paket yang mereka pilih, reaksi yang muncul hampir selalu sama. "Oh iya juga ya. Itu penting juga."

Artikel ini saya tulis dengan satu tujuan yang sangat jujur. Nama produk kami adalah Memverr. Dua r di belakang. Dan kami tahu betul bahwa nama itu rawan salah ketik.

Ada satu perasaan yang saya yakin hampir semua orang pernah alami. Tiba-tiba sadar bahwa langganan sesuatu sudah mati. Entah karena lupa perpanjang, entah karena saldo tidak cukup, entah karena kartu kedaluwarsa.

Bisnis yang bertahan bukan bisnis yang punya produk terbaik. Bukan bisnis yang punya tim paling pintar. Bukan bisnis yang punya modal paling besar. Bisnis yang bertahan adalah bisnis yang punya sistem.

ada satu ukuran kesuksesan yang hampir selalu diagungkan: daily active users. Semakin sering produk dibuka, semakin dianggap berhasil. Semakin lama pengguna berada di dalam layar, semakin dianggap bernilai.

Ada satu pertanyaan yang belakangan sering saya ajukan ke diri sendiri ketika melihat bisnis berbasis membership tumbuh di mana-mana: Jika saya menjadi member di bisnis saya sendiri, apakah saya akan merasa nyaman?

ketahanan sistem: The New York Times. Bukan karena mereka perusahaan media terbesar di dunia. Bukan juga karena teknologinya paling canggih. Tapi karena cara mereka berpikir tentang subscription terasa dewasa sejak awal.

ketika sebuah perusahaan terlalu baik dan terlalu sering memberi promo, maka kebaikan itu perlahan berubah menjadi ekspektasi. Dan ketika ekspektasi itu tidak lagi terpenuhi, kekecewaan muncul.

Ada satu hal yang baru saya sadari belakangan ini: banyak bisnis terlalu sibuk mengejar member loyal, padahal yang benar-benar menjaga bisnis tetap hidup adalah member yang membayar. Dua hal ini sering dianggap sama. Padahal logikanya sangat berbeda.

Ada satu hal yang selalu saya pikirkan saat membangun Memverr: simplicity itu kunci. Memverr lahir dari filosofi Kaizen—filosofi Toyota yang fokus pada perbaikan kecil secara konsisten untuk mencapai visi jangka panjang.